Di tengah beragam referensi kecantikan di media sosial, mengenali apa yang sesuai untuk diri sendiri menjadi bagian penting sebelum mempertimbangkan perawatan estetika. Bagi dr. Abdul Wahid Mufti, pendiri Mufti Clinic, konsultasi perlu memberi ruang bagi seseorang untuk memahami keinginannya, menghargai karakter wajahnya, dan mengambil keputusan dengan informasi yang cukup.
Dalam pengalaman praktiknya, dr. Mufti menjumpai beragam alasan di balik keinginan pasien menjalani perawatan. Ada yang ingin merespons perubahan wajah seiring usia, ada pula yang berharap merasa lebih nyaman dengan penampilannya dalam aktivitas sehari-hari. Perbedaan motivasi tersebut membuat setiap konsultasi perlu berangkat dari kebutuhan individu.
“Wajah adalah identitas kita. Bagi saya, hasil yang natural adalah hasil yang selaras dengan karakter wajah pasien. Karena itu, percakapan perlu dimulai dari apa yang ingin dicapai pasien dan apa yang realistis untuk diupayakan,” ujar dr. Mufti.
Dari ketertarikan personal menuju pendekatan yang mengutamakan percakapan
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi pada 2015 ini mulai berpraktik pada 2017. Ketertarikannya pada estetika tumbuh dari kedekatannya dengan sang istri yang menyukai dunia kecantikan dan perawatan diri. Ia kemudian mendirikan Mufti Clinic pada 3 September 2018 dengan fokus pada face contouring nonbedah.
Sepanjang perjalanan tersebut, mendengarkan menjadi prinsip penting dalam pendekatannya. Di balik permintaan untuk memperbaiki area wajah tertentu, ia ingin memahami alasan, harapan, dan kesiapan pasien sebelum membicarakan pilihan tindakan.
Menurut dr. Mufti, face contouring kerap dipahami sebagai perubahan bentuk wajah yang mencolok. Dalam pendekatannya, perhatian justru diarahkan pada keselarasan proporsi dan karakter wajah, termasuk menghindari penggunaan produk secara berlebihan.
Menghargai ciri khas di tengah perubahan tren
Dr. Mufti mengamati bahwa referensi pasien dapat berubah mengikuti tren kecantikan, mulai dari bentuk bibir hingga kontur wajah. Referensi tersebut dapat membantu membuka percakapan, tetapi tetap perlu dibahas dalam konteks kondisi masing-masing pasien.
“Pasien bisa membawa referensi, dan itu membantu saya memahami keinginannya. Selanjutnya, kami perlu membicarakan kesesuaiannya dengan karakter wajah, batas hasil yang dapat diupayakan, serta risiko dan pemulihannya. Hasil yang diharapkan perlu dipahami bersama sejak awal,” jelasnya.
Perspektif ini mengajak masyarakat untuk melihat ciri khas wajah sebagai bagian yang layak dipertahankan. Keputusan mengenai penampilan dapat dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri, tanpa menjadikan wajah orang lain sebagai ukuran keberhasilan pribadi.
Tiga hal yang perlu dibawa ke ruang konsultasi
Berdasarkan pengalamannya mendampingi pasien, dr. Mufti membagikan tiga hal yang dapat membantu masyarakat menjalani konsultasi dengan lebih terarah.
Pertama, kenali tujuan pribadi. Jelaskan bagian yang menjadi perhatian dan perubahan yang diharapkan. Tujuan yang jelas membantu dokter dan pasien membahas pilihan serta batas hasil secara lebih terbuka.
Kedua, sampaikan riwayat medis dan ajukan pertanyaan. Konsultasi merupakan kesempatan untuk membicarakan kondisi kesehatan, riwayat tindakan sebelumnya, risiko, dan hal-hal yang belum dipahami. Pasien perlu memiliki ruang untuk bertanya sebelum mengambil keputusan.
Ketiga, pertimbangkan waktu pemulihan dan anggaran. Apabila ada beberapa hal yang ingin ditangani, diskusikan prioritasnya. Rencana perawatan juga perlu mempertimbangkan aktivitas sehari-hari dan waktu yang tersedia untuk pemulihan.
“Untuk pasien yang baru pertama kali mempertimbangkan perawatan, saya menyarankan agar tujuan pribadinya disampaikan dengan jelas. Jika ada beberapa tindakan yang dibahas, tanyakan mana yang menjadi prioritas, bagaimana risikonya, dan berapa waktu pemulihan yang perlu disiapkan,” kata dr. Mufti.
Memberi waktu untuk mengambil keputusan
Bagi dr. Mufti, kesiapan pasien menjadi bagian penting dalam perencanaan tindakan. Ia dapat menyarankan penundaan ketika kondisi pasien sedang tidak fit atau waktu pemulihan terlalu dekat dengan agenda penting.
Di Mufti Clinic, ia menjelaskan bahwa pembahasan sebelum tindakan mencakup ekspektasi hasil dan risiko, dilanjutkan dengan pemantauan selama masa pemulihan serta evaluasi kembali apabila diperlukan.
“Kepercayaan pasien adalah hal utama. Saya ingin pasien memahami apa yang sedang dipertimbangkan, termasuk keterbatasannya. Dengan begitu, keputusan dapat diambil dengan lebih tenang dan berdasarkan pemahaman bersama,” ujarnya.
Melalui perjalanan praktiknya, dr. Mufti ingin mendorong percakapan yang lebih terbuka mengenai estetika. Bagi masyarakat yang sedang mempertimbangkan perawatan, langkah awalnya adalah mengenali tujuan sendiri, berani bertanya, dan memberi waktu untuk memahami pilihan. Menghargai karakter wajah dan mengambil keputusan secara sadar dapat berjalan beriringan.