Oleh: Abdul Khalid Boyan. Pengampu Republik NU Corner (RNC), Peneliti LPPM Universitas Arya Wangsa (UAW).
Banyak orang mengira organisasi Nahdlatul Ulama (NU) lahir begitu saja pada tahun 1926--seperti bayi yang tiba-tiba menangis di ruang bersalin, lengkap dengan akta kelahiran dan nama yang sudah dipikirkan matang-matang.
Padahal kelahiran NU tidak sesederhana itu. Jauh sebelum NU lahir, sudah ada satu rangkaian babakan pergerakan elemen-elemen yang merepresentasi kegelisahan kiai (ulama)—berkaitan dengan isu krusial dan strategis--yang pada giliranya elemen-elemen pergerakan itu mengambil bentuk yang utuh dalam bangunan raksasa bernama Nahdlatul Ulama.
Empat elemen pergerakan itu tidak lain adalah Nahdlatul Wathan, yang membawa misi dan spirit literasi tentang pentingnya kesadaran nasional dan mencintai tanah air. Di wilayah pergerakan pemikiran ada Tashwirul Afkar, yang lebih menyerupai kelompok studi yang menitikberakan pada olah dan pengembangan kerja intelektual. Satu ruang dimana intelektual santri kala itu bisa duduk sejajar dan bebas merdeka berdebat, baik menyangkut khazanah fiqih, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan—tanpa harus khawatir bermusuhan esok harinya.
Di sisi lain muncul Nahdlatut Tujjar—yang menunjukkan bahwa kiai zaman dulu tidak melulu bicara fiqih, namun juga ternyata juga sudah memikirkan dan merumuskan bagaimana harga barang di pasar. Dan, yang barangkali tidak kalah menarik, ada Komite Hijaz sebagai wadah dan corong ulama berbicara ranah keagamaan di level antarbangsa (geopolitik).
Pada titik inilah, saya kira, kalau ada yang memandang NU hanya soal pesantren dan tradisi qunut serta tahlilan adalah nyata sebuah kekeliruan yang dilakukan sejak dalam pikiran.
NU jauh lebih kompleks dari sekedar itu. NU tidak hanya bicara pentingnya penguatan kultur (jamaah), namun juga sekaligus memandang pentingnya struktural organisasi (jam’iyah). NU tidak hanya bicara soal pemikiran (fikrah), namun juga pergerakan (harakah). NU tidak hanya memperhatikan menyangkut peribadatan (ubudiyah), namun juga soal pergaulan sosial (mu’amalah). NU tidak mengunci mati pada soal keagamaan semata (din), namun sejajar juga mengangkut soal kenegaraan (daulah).
Kembali ke Titik Berangkat
Bertolak dari kompleksitas positioning NU di atas, maka pertanyaan yang relevan diajukan bukanlah pertanyaan: harus dibawa ke mana organisasi NU? melaikan lebih pada pertanyaan: dari pelabuhan mana kapal NU hendak diberangkatkan? Ini penting, sebab banyak orang, termasuk saya sendiri kadang-kadang, lupa titik awal, dan karena lupa titik awal, jadi salah menilai arah.
Para pendiri NU, berdasar dari uraian panjang di atas, jadi sangat jelas dan clear bahwa NU secara organisatoris tidak didesain mengurung diri hanya pada wilayah sosial keagamaan yang sempit.
Pendiri NU membawa pesan yang tegas bahwa spirit agama harus hadir di semua aspek kehidupan: di sekolah, di pasar, di parlemen, di meja diplomasi, bahkan di ruang-ruang yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan agama sama sekali.
Inilah yang pada gilirannya membuat corak keislaman nusantara jadi sangat cair dan tidak gagap menghadapi dunia (membumi). Suatu corak keislaman yang tidak takut berkotor-kotor akan debu zaman dan tetek bengek soal keumatan.
Cara pandang semacam ini harus terus dibaca ulang, bukan dihafal seperti orang menghafal nadzam, tetapi dipahami konteksnya, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa zaman kita saat ini yang sudah sangat dimensional.
Kalau dulu ada Nahdlatut Tujjar yang jadi cikal-bakal kelahiran NU--untuk mengurus ekonomi umat, maka sudah seyogyannya NU memiliki perhatian serius akan upaya-upaya pengintasan kemiskinan yang masih saja berputar-putar belum menemukan jalan keluar, soal usaha kecil yang trancam gulung tikar, problem hubungan industrial, ekonomi digital yang suka atau tidak suka sudah jadi medan pertarungan baru, makin menyempitnya lapangan kerja, dan soal tatakelola pesantren yang belum beranjak mandiri dari uluran tangan.
Jika saat itu sudah berdiri Tashwirul Afkar untuk mengasah pikiran, maka sekarang, di abad ke dua NU, harus berani masuk ke perdebatan tentang kecerdasan buatan (AI), tentang sains yang terus berkembang, tentang perubahan iklim yang efeknya sudah bisa dirasakan petani kita, tentang bioetika yang menyangkut soal hidup dan mati manusia, dan tentang ke mana arah peradaban ini sebenarnya hendak melaju.
Demikian halnya dengan keberanian Komite Hijaz bicara di forum internasional, bisa dikontekstualisasikan dengan keberpihakan NU terhadap konflik-konflik dunia, terhadap peperangan, terhadap ketidakadilan global, dan terhadap perjuangan kemanusiaan, di mana pun itu terjadi--tanpa perlu bertanya apa agama korbannya.
Islam dan Indonesia, Satu Tarikan Napas
Dari sini saya kira menjadi jelas, bahwa sejak awal NU memang dirancang untuk mengambil peran ganda: sebagai gerakan keislaman sekaligus sebagai penopang keindonesiaan. Dalam banyak kesempatan forum diskusi Ke-NU-an saya sering menegaskan bahwa bagi NU, Islam dan Indonesia itu bukan dua hal yang harus dipertentangkan, apalagi dipertandingkan seolah-olah salah satu harus menang dan yang lain harus kalah.
Keduanya berjalan dalam satu tarikan napas yang sama. Islam ada pada aras keyakinan yang memberi nilai dan tuntunan, sementara Indonesia adalah rumah bersama yang keberadaannya harus terus dijaga dan diperjuangkan, karena rumah—seberapa pun kokohnya, tetap butuh dirawat setiap hari.
Di usia yang menapaki abad ke dua-nya, NU akan menghadapi terpaan angin yang tidak selalu ramah dan gelombang yang tidak selalu bisa diprediksi. Ini sama sekali bukan untuk menakut-nakuti, ini hanya realitas yang wajar dihadapi siapa pun yang memegang kemudi organisasi sebesar NU.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan nahkoda baru: Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) memiliki momentum besar menapaki jalan menuju era kebangkitan ke dua NU, walau tantangannya juga tidak sederhana.
Keunggulan kompetitif Gus Kikin terletak pada pengalaman profesionalnya yang nyaris sempurna. Sebagai kiai, beliau punya akar tradisi yang kuat, yang menjadi semacam jangkar ketika arus zaman terlalu deras. Pengalamannya mengasuh pesantren memberinya pemahaman langsung tentang kehidupan umat, bukan pemahaman yang hanya didapat dari laporan atau angka statistik.
Keterlibatannya di dunia usaha memberinya kepekaan tentang pentingnya kemandirian, sesuatu yang sering kita bicarakan tapi jarang benar-benar kita usahakan. Dan menariknya, ia pernah menempuh pendidikan pelayaran, sesuatu yang sepertinya sudah dipersiapkan semesta sebagai bekal membawa NU menyebrangi samudra luas.
Tapi tentu saja, menakhodai NU itu jauh lebih rumit daripada menakhodai kapal di laut lepas. Di laut, arah angin bisa dibaca dari instrumen navigasi. Di NU, arah angin sering kali baru terasa setelah kita berada di tengah terpaannya.
Akan ada masa-masa yang menguntungkan, tentu saja, tapi akan ada pula gelombang yang mengguncang, bahkan mungkin badai yang tidak pernah masuk dalam perhitungan siapa pun sebelumnya.
Namun begitulah organisasi NU ini—sejak dulu, selalu diuji oleh zaman yang tidak pernah mau diam. Dan saya kira, itu justru yang membuat NU tetap relevan sampai hari ini: bukan karena ia selalu tenang, tetapi karena ia selalu tahu caranya bertahan, bahkan ketika laut sedang tidak bersahabat sama sekali.
Akhirnya, cara terbaik menghormati pendiri bukan dengan mengulang persis apa yang mereka lakukan, sebab tantangan generasi kita hari ini jelas tidak lagi sama. Cara menghormati pendiri NU hari ini adalah dengan mengambil api spirit dan nilai-nilai keteguhan, keberanian, dan konsistensinya sebagai modal juang hari ini.
Menghormati pendiri NU sama sekali tidak bermakna hanya sekadar mewarisi bentuk-bentuk baku produk sejarahnya. Sebab, kalau kita hanya meniru bentuk tanpa memahami semangatnya, itu namanya bukan meneruskan perjuangan, melainkan sekadar bernostalgia akan masa lalu.