telusur.co.id - Iran kembali melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan militer dan tekanan ekonomi terhadap Republik Islam tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa strategi baru yang diterapkan Iran di berbagai bidang pada akhirnya akan membawa kekalahan bagi pihak yang dianggap sebagai musuh negaranya.
Melalui unggahan di platform X pada Rabu, Rezaei menyampaikan bahwa Iran kini menyiapkan pendekatan baru yang mencakup medan perang, diplomasi, hingga upaya menghadapi tekanan ekonomi.
“Anda akan segera melihat bahwa strategi baru Iran di medan perang, dalam diplomasi, dan dalam menghadapi blokade ekonomi akan menghancurkan fondasi Anda,” kata Rezaei dalam pesannya yang ditujukan kepada musuh-musuh Iran.
Rezaei juga menyinggung dampak perang dan apa yang disebutnya sebagai konspirasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menilai pihak-pihak yang berada di balik tekanan tersebut pada akhirnya akan menghadapi konsekuensi dari konflik yang mereka ciptakan sendiri.
Menurutnya, musuh Iran bukan hanya akan gagal keluar dari situasi yang telah mereka bangun, tetapi juga akan menghadapi kehancuran.
Pernyataan Rezaei muncul ketika ketegangan militer di kawasan Teluk Persia dilaporkan kembali meningkat.
Iran menuding Amerika Serikat melakukan agresi militer dan serangan terhadap wilayah sipil. Situasi tersebut kemudian disebut mendorong Angkatan Bersenjata Iran untuk melakukan aksi balasan dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target yang dianggap sebagai sasaran musuh di kawasan tersebut.
Ancaman terbaru dari Rezaei menambah panjang rangkaian pernyataan keras dari para pejabat Iran di tengah konfrontasi yang semakin memanas.
Iran selama ini menegaskan bahwa tekanan militer dan ekonomi tidak akan membuat Teheran mengubah sikapnya. Sebaliknya, pemerintah Iran menyatakan akan menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi tekanan dan mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada bagaimana Washington dan Teheran merespons eskalasi tersebut, terutama di tengah meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.



