Jakarta Menuju Kota Sinema, Junaidi Sahal Minta Masyarakat dan Budaya Lokal Jadi Fondasi - Telusur

Jakarta Menuju Kota Sinema, Junaidi Sahal Minta Masyarakat dan Budaya Lokal Jadi Fondasi

FGD PW IKA PMII DKI Jakarta-Foto. Yudo

telusur.co.id - Tokoh masyarakat Betawi Junaidi Sahal mendukung penuh gagasan Pemprov DKI Jakarta yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota sinema. Meski demikian, Junaidi menilai bahwa gagasan tersebut setidaknya harus memperhatikan dua kekuatan yang paling fundamental, yakni masyarakat lokal serta budaya yang dimiliki masyarakat Betawi itu sendiri agar memiliki identitas dan mampu bersaing di kancah global.

“Misalnya Korea, dia membangun K-Pop dan menjadikannya mendunia dengan kekuatan yang terletak pada kearifan lokalnya,” ujarnya dalam FGD yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) DKI Jakarta yang bertema “Menguji Keberpihakan Tata Kelola, Ekonomi Inovatif, dan Ruang Hidup bagi Kesejahteraan Warga DKI Jakarta menyongsong Lima Abad”, Kamis (22/1/2026), di Setu Babakan, Jakarta Selatan.s

Meski demikian, budaya Betawi dewasa kini juga dihadapkan pada dua tantangan besar, yakni apakah bersifat strategis serta bernilai jual. Disamping itu, dirinya juga menilai bahwa budaya Betawi rentan dieksploitasi serta rentan termarginalkan secara sosial, ekonomi, bahkan politik.

“Nah, saya usul untuk PW IKA PMII kalau bener-bener jadi harus serius ya,” ujarnya.

Ia pun mendorong agar PW IKA PMII DKI Jakarta berkolaborasi dengan masyarakat adat Betawi dalam mendukung visi Gubernur DKI Jakarta untuk menjadikan Jakarta sebagai kota sinema. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pembangunan tidak tercerabut dari akar budaya lokal.

“Kesenian itu ada Lenong, Pantun, Tari topeng, nah ini kan sebetulnya industri,” terangnya.

Lebih lanjut ia pun menekankan agar mengkaji secara serius dari segi anggaran dan pembiayaan jika ingin mengikuti jejak kota-kota sinema di dunia. Sebagai perbandingan, ia menyebut Kota Busan di Korea Selatan yang mengalokasikan anggaran hingga Rp6 triliun per tahun untuk pengembangan industri sinema tersebut.

“Menjadi kota sinema tuh setiap tahunnya Rp 6 triliun, maka itu harus diperhitungkan,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, ia mengusulkan agar kesenian Betawi seperti halnya Lenong, Pantun dan Tari topeng dimasukkan ke dalam rencana pembangunan Jakarta dan dibahas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrenbang). Selain itu, dirinya juga mendorong agar kesenian Betawi diajarkan di sekolah-sekolah. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya pelestarian sekaligus regenerasi pelaku budaya.

“Nah saya usul konkrit, masukkan di rencana pembangunan kota Jakarta, kemudian di Musrembang. Misalkan menjadikan Pantun dan Lenong itu diajarkan di sekolah-sekolah dasar SD dan SMP,” pungkasnya.

Melalui langkah tersebut, diharapkan budaya Betawi tidak hanya lestari, tetapi juga mampu berkembang menjadi industri yang menyejahterakan masyarakatnya serta sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global dan kota sinema.

Terlihat hadir pada kegiatan tersebut diantaranya Ketua PB IKA PMII Yayat Hidayat, Ketua PW IKA PMII DKI Jakarta Syarifuddin Salwani, Ketua Majelis Pembina PW IKA PMII DKI Jakarta Asik Samsul Huda,, Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies Sholeh Basyari, Muladi Mugheni, serta BPK perwakilan DKI Jakarta Yitno.


Tinggalkan Komentar