telusur.co.id - Wacana boikot terhadap pelaksanaan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat mencuat sebagai bentuk protes atas klaim Washington terhadap Greenland. Usulan ini disampaikan oleh Jurgen Hardt, juru bicara kebijakan luar negeri partai Kristen Demokrat Jerman (CDU/CSU), pada Jumat (16/1).
Hardt menilai boikot turnamen sepak bola terbesar dunia bisa menjadi langkah paling ekstrem untuk menyadarkan Presiden AS Donald Trump terkait ambisinya mencaplok Greenland.
“Memboikot turnamen harus dipertimbangkan hanya sebagai langkah terakhir untuk menyadarkan Presiden Trump terkait isu Greenland,” ujar Hardt, sebagaimana dikutip koran Bild.
Menurut Hardt, sikap Trump menunjukkan betapa pentingnya Piala Dunia bagi dirinya. Hal ini membuka ruang bagi aksi boikot sebagai tekanan politik.
Laporan media Yordania, Roya News, pada 10 Januari menyebut hampir 17.000 pencinta sepak bola telah membatalkan tiket Piala Dunia mereka menyusul seruan boikot sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan AS.
Turnamen Piala Dunia 2026 sendiri akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, dengan format baru melibatkan 48 tim peserta. Kompetisi dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Selain itu, AS juga akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2028 di Los Angeles.
Trump berulang kali menegaskan bahwa Greenland harus menjadi wilayah AS karena posisinya yang strategis di kawasan Arktik, serta untuk menghadang pengaruh China dan Rusia. Namun, otoritas Denmark dan Greenland menolak klaim tersebut, menegaskan bahwa AS harus menghormati keutuhan wilayah mereka.
Greenland, yang pernah menjadi koloni Denmark hingga 1953, memperoleh otonomi luas pada 2009, termasuk hak untuk mengatur kebijakan dalam negeri secara mandiri.




