telusur.co.id - Di bawah sorotan lampu Tottenham Hotspur Stadium, malam itu menjadi panggung bagi Aston Villa untuk menunjukkan kedewasaan mereka. Sejak peluit pertama berbunyi, pasukan Unai Emery tampil percaya diri, menguasai bola, dan menekan tuan rumah yang justru terlihat gugup di hadapan pendukung sendiri.
Ketika pertandingan baru berjalan 22 menit, Emiliano Buendia memecah kebuntuan. Ia menyambut umpan matang dari Donyell Malen, lalu melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihalau Guglielmo Vicario. Gol itu membuat Villa semakin bersemangat, sementara wajah para pendukung Spurs mulai muram.
Malapetaka bagi Tottenham datang tak lama kemudian. Richarlison, penyerang andalan mereka, harus meninggalkan lapangan lebih cepat karena cedera hamstring. Kehilangan sosok penting di lini depan membuat permainan Spurs semakin pincang. Villa pun memanfaatkan situasi itu dengan baik. Menjelang akhir babak pertama, Morgan Rogers menambah luka tuan rumah lewat gol kedua, membuat skor 2-0 saat turun minum.
Memasuki babak kedua, Spurs mencoba bangkit. Tempo permainan mereka meningkat, dan sembilan menit setelah jeda, Wilson Odobert berhasil memperkecil ketertinggalan dengan sepakan rendah yang menembus gawang Villa. Gol itu seolah membangkitkan harapan, terlebih dengan kembalinya Dominic Solanke setelah lima bulan absen.
Namun, meski terus menekan, Spurs tak mampu menembus pertahanan Villa yang tampil disiplin. Setiap serangan kandas, setiap peluang terbuang. Bahkan, Villa hampir menambah keunggulan di penghujung laga, andai saja sapuan Pedro Porro tidak menyelamatkan bola di garis gawang.
Peluit panjang berbunyi, skor tetap 2-1 untuk Villa. Kekalahan ini terasa pahit bagi Tottenham, bukan hanya karena mereka tersingkir, tetapi juga karena ini adalah kali pertama sejak musim 2013/14 mereka gagal melewati babak ketiga FA Cup.
Ketegangan sempat mewarnai akhir pertandingan. Selebrasi Morgan Rogers di depan tribun pendukung Villa memicu emosi sejumlah pemain Spurs, hingga terjadi adu mulut dan dorong-dorongan di tengah lapangan. Staf pelatih harus turun tangan untuk meredakan suasana.
Malam itu, Villa pulang dengan senyum kemenangan, sementara Spurs ditinggalkan dengan rasa kecewa dan pertanyaan besar tentang arah perjalanan mereka di musim ini. [ham]




