telusur.co.id - Isu Greenland kembali mencuat ke panggung geopolitik internasional. Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta para panglima operasi khusus untuk menyusun rencana invasi ke pulau terbesar di dunia itu. Kabar ini memicu kegelisahan di Eropa, terutama Denmark, yang sejak lama memegang kedaulatan atas Greenland.
Di Washington, dukungan terhadap ide tersebut disebut datang dari penasihat kebijakan Trump, Stephen Miller. Namun, sejumlah perwira senior militer AS dikabarkan menentang rencana itu. Kekhawatiran pun muncul bahwa Trump berusaha mendorong langkah kontroversial ini sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November.
Tensi semakin meningkat ketika Trump menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus AS untuk Greenland. Landry bahkan secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat berencana menjadikan pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.
Di Kopenhagen, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengecam keras pernyataan itu dan berjanji memanggil Duta Besar AS untuk meminta penjelasan. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bersama PM Greenland Jens-Frederik Nielsen mengeluarkan pernyataan bersama, memperingatkan AS agar tidak mencoba merebut pulau tersebut dan menegaskan pentingnya penghormatan terhadap integritas teritorial.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan akan bertemu dengan otoritas Denmark untuk membahas situasi ini. Namun, ketika ditanya apakah AS siap mengesampingkan opsi intervensi militer, Rubio tidak memberikan jawaban tegas.
Trump sendiri berulang kali menegaskan bahwa Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat demi alasan keamanan nasional. Mantan PM Greenland, Mute Egede, menolak keras gagasan itu dengan tegas: “Pulau ini tidak dijual dan tidak akan pernah dijual.”
Greenland, yang sejak 2009 memiliki status otonomi dalam Kerajaan Denmark, bukan hanya memiliki nilai strategis, tetapi juga kaya akan mineral tanah jarang dan cadangan energi fosil yang masif. [ham]
Sumber: Sputnik/RIA Novosti




