Tragedi Rungkut, Nihayatul Wafiroh: Ini Alarm Serius bagi Orang Tua dan Sekolah

by Bambang Tri |
Tragedi Rungkut, Nihayatul Wafiroh: Ini Alarm Serius bagi Orang Tua dan Sekolah
Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh .Foto:Ist

telusur.co.id,JAKARTA -Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh atau akrab disapa Ninik, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden dugaan perundungan terhadap seorang anak berkebutuhan khusus di Rungkut, Surabaya, yang berujung meninggal dunia. Peristiwa ini semakin memprihatinkan karena dua anak yang diduga terlibat disebut masih berusia di bawah 12 tahun.

Ninik menilai tragedi tersebut menjadi alarm serius bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara untuk memperkuat perlindungan anak serta menanamkan nilai-nilai adab sejak dini.

“Saya sangat prihatin dan berduka atas peristiwa ini. Tidak seharusnya ada anak yang kehilangan nyawa dalam situasi yang diduga berkaitan dengan perundungan. Apalagi, anak berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian, perlindungan, dan penerimaan dari lingkungan sekitarnya,” ujar Ninik di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Menurut Ninik, dugaan keterlibatan anak-anak berusia di bawah 12 tahun harus menjadi bahan evaluasi bersama terkait pola pengasuhan, pendidikan karakter, pengawasan, dan lingkungan sosial tempat anak tumbuh. Persoalan ini tidak cukup dipandang sebagai kenakalan anak semata.

“Ketika anak-anak seusia itu diduga terlibat dalam tindakan yang berakibat sangat serius, kita harus bertanya, di mana peran orang tua, bagaimana pengawasan di sekolah, dan nilai-nilai apa yang mereka pelajari dari lingkungan sehari-hari? Ini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan agar kita berani melakukan evaluasi bersama,” tegasnya.

Ninik mendesak aparat penegak hukum mengusut peristiwa tersebut secara menyeluruh, objektif, dan transparan, sekaligus memastikan hak-hak korban dan keluarganya terpenuhi. Pendampingan psikologis dan sosial juga perlu diberikan, dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak dalam penanganan pihak-pihak yang masih berusia sangat muda.

Ia menegaskan, pendidikan adab tidak boleh berhenti pada pelajaran formal di sekolah. Anak perlu diajarkan menghormati orang lain, menjaga ucapan dan tindakan, memahami batasan dalam bercanda, serta tidak menjadikan perbedaan fisik, kemampuan, maupun kondisi seseorang sebagai bahan ejekan.

“Jangan sampai anak pintar secara akademik, tetapi tidak memiliki empati dan rasa hormat kepada sesama. Anak harus diajarkan bahwa mengejek, merendahkan, mengucilkan, apalagi menyakiti orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dianggap biasa,” kata Ninik.

Ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter melalui keteladanan, komunikasi terbuka, dan pengawasan pergaulan anak. Sementara itu, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan inklusif serta menindaklanjuti setiap indikasi perundungan secara serius, bukan menganggapnya sebagai candaan biasa.

Ninik juga menyoroti pentingnya penguatan Sekolah Luar Biasa (SLB), baik dari sisi kualitas dan ketersediaan tenaga pendidik maupun pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, penguatan SLB harus menjadi bagian dari upaya negara memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang layak, aman, dan bermartabat.

Ia menilai, tenaga pendidik di SLB perlu mendapatkan dukungan melalui peningkatan kompetensi, pelatihan berkelanjutan, serta penguatan kemampuan dalam mendampingi anak dengan beragam kebutuhan. Di sisi lain, kurikulum harus dirancang secara adaptif, memperhatikan karakteristik dan potensi masing-masing anak, serta tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pengembangan kemandirian, keterampilan sosial, komunikasi, dan perlindungan diri.

“Penguatan SLB tidak boleh hanya berbicara soal gedung dan fasilitas. Kita juga harus memastikan ketersediaan guru yang kompeten, pendamping yang memadai, serta kurikulum yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak,” ujar Ninik.

Lebih lanjut, ia mendorong penguatan kolaborasi antara SLB, sekolah reguler, orang tua, dan masyarakat untuk membangun lingkungan yang semakin inklusif. Pendidikan tentang disabilitas dan keberagaman perlu diperkenalkan kepada anak sejak dini agar mereka memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda, tetapi tetap memiliki hak yang sama untuk dihormati dan dilindungi.

Ninik juga mengajak masyarakat membiasakan anak menghargai perbedaan dan mengembangkan empati, termasuk terhadap anak berkebutuhan khusus. Anak perlu diperkenalkan sejak dini pada keberagaman kondisi manusia agar tumbuh dengan sikap saling menghormati, bukan merendahkan atau mengucilkan mereka yang berbeda.

“Melindungi anak bukan hanya tugas orang tua atau sekolah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Jangan menunggu ada korban berikutnya untuk bergerak. Kita harus memastikan setiap anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Mengajarkan adab, memperkuat pendidikan khusus, serta membangun lingkungan yang inklusif adalah bagian penting dari upaya menyelamatkan masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terkait