Cuaca panas ekstrem yang melanda Surabaya dan sekitarnya berpotensi memengaruhi kondisi emosional serta pola komunikasi masyarakat. Selain berdampak pada kesehatan fisik, suhu tinggi juga dapat mengurangi konsentrasi dan memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan emosi ketika berinteraksi.
Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., menyoroti kondisi tersebut menyusul suhu udara di Surabaya yang dilaporkan sempat mencapai 37–38 derajat Celsius.
Menurut Suko, ketidaknyamanan fisik akibat paparan panas dapat memengaruhi stabilitas emosi seseorang. Kondisi ini berpotensi membuat interaksi di ruang publik lebih rentan diwarnai kesalahpahaman, terutama ketika seseorang sedang lelah atau mengalami dehidrasi.
Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur itu menjelaskan, kondisi tubuh dan emosi memiliki kaitan dengan cara seseorang menyampaikan pesan maupun merespons orang lain.
“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Dr. Suko.
Risiko tersebut, lanjutnya, dapat terasa dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat berkendara di jalan raya. Kemacetan, suara klakson, serta panas yang memancar dari permukaan aspal dapat menambah ketidaknyamanan dan menguji kesabaran pengguna jalan.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat perlu menyadari pentingnya menjaga respons emosional agar ketegangan tidak berkembang menjadi perilaku agresif atau konflik antarpengguna jalan.
Terkait kondisi cuaca, paparan dalam naskah sumber menyebut minimnya tutupan awan dan posisi semu Matahari sebagai faktor yang berkontribusi terhadap tingginya suhu di sejumlah wilayah Jawa Timur. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan panas.
Suko mengimbau masyarakat melakukan langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus mengelola emosi. Upaya tersebut antara lain memenuhi kebutuhan cairan tubuh, beristirahat ketika merasa lelah, serta menjaga komunikasi tetap tenang di lingkungan keluarga, kampus, maupun tempat kerja.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menanggapi perbedaan pendapat atau kesalahan kecil dengan kemarahan, terutama ketika kondisi lingkungan membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih melelahkan.
“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” pungkasnya.
Melalui pengendalian emosi dan sikap saling memahami, masyarakat diharapkan dapat menjaga kualitas komunikasi serta mencegah gesekan sosial di tengah kondisi cuaca panas.