Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan 100 paket bantuan gizi bagi ibu hamil dan balita di Pendopo Kabupaten Pacitan, Kamis (22/10/2026). Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemenuhan gizi dan mencegah stunting sejak dini.
Bantuan yang bersumber dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Dinas Kesehatan Jawa Timur itu menyasar 10 ibu hamil dan 90 balita. Setiap paket berisi telur, minyak goreng, susu, tepung, kacang hijau, dan beras.
Selain pembagian bantuan pangan, kegiatan tersebut juga diisi edukasi mengenai perawatan bayi, pentingnya pemberian air susu ibu (ASI), pemenuhan gizi ibu menyusui, serta langkah-langkah pencegahan stunting.
Khofifah mengatakan, pencegahan stunting perlu dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan ibu memperoleh asupan gizi yang cukup dan menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin. Setelah bayi lahir, pemenuhan gizi harus dilanjutkan melalui pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai usia.
“Pencegahan stunting jangan menunggu sampai anak lahir. Sejak hamil, gizi dan kesehatan ibu harus diperhatikan. Setelah bayi lahir, pemberian ASI dan pemenuhan gizinya juga harus dijaga,” ujar Khofifah.
Menurutnya, bantuan pangan perlu disertai edukasi agar para ibu memahami cara memenuhi kebutuhan gizi serta merawat anak sesuai tahapan usianya.
“Bantuan ini harus diikuti dengan edukasi. Ibu perlu tahu bagaimana memenuhi kebutuhan gizinya dan memberikan makanan yang sesuai dengan usia anak agar tumbuh sehat,” katanya.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Jawa Timur tercatat sebesar 14,7 persen, turun dari 17,7 persen pada 2023. Angka tersebut berada di bawah prevalensi stunting nasional pada 2024 yang mencapai 19,8 persen.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Timur 2025–2029, pemerintah provinsi menargetkan prevalensi stunting turun dari 14,7 persen pada 2024 menjadi 12 persen pada 2029. Target tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pemenuhan gizi serta pendampingan berkelanjutan.
Khofifah menegaskan, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga dan dukungan berbagai pihak. Pemenuhan gizi ibu hamil, pencegahan anemia, pendampingan ibu menyusui, serta pemantauan pertumbuhan balita perlu dilakukan secara berkesinambungan agar anak memperoleh dukungan kesehatan dan gizi yang memadai sejak awal kehidupan.
“Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Perlu sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, Baznas, dan keluarga. Bantuan gizi harus berjalan beriringan dengan edukasi agar upaya pencegahan stunting bisa dilakukan secara berkelanjutan,” katanya.
Salah seorang penerima bantuan, Nadia, yang hadir bersama anaknya yang berusia tujuh bulan, mengaku bersyukur atas bantuan paket gizi dan edukasi yang diterimanya.
“Senang sekali bisa mendapat bantuan ini. Isinya bermanfaat untuk kebutuhan keluarga, apalagi saya punya anak yang masih berusia tujuh bulan. Tadi juga mendapat penjelasan tentang cara merawat bayi dan memenuhi gizinya. Jadi, saya bisa belajar lagi bagaimana memberikan makanan yang sesuai dengan usia anak supaya tumbuh sehat,” katanya.
Penerima bantuan lainnya, Sonya, juga menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan kepada ibu dan anak di Pacitan.
“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami. Terima kasih Ibu Khofifah atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada kami,” ucapnya.