Pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026β2031 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026), berlangsung secara sederhana.
Tidak tampak kemewahan dalam pelaksanaan acara tersebut. Hal ini terlihat dari minimnya pemasangan bendera maupun umbul-umbul di sekitar lokasi kegiatan. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran pengurus PBNU.
Acara tersebut juga tidak menghadirkan sejumlah tokoh nasional, termasuk presiden maupun pejabat negara lainnya. Kehadiran dalam kegiatan itu difokuskan pada jajaran pengurus yang akan mengemban amanah organisasi untuk masa khidmah lima tahun ke depan.
Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, mengakui bahwa pengukuhan pengurus kali ini memang digelar secara sederhana. Menurutnya, kesederhanaan tersebut menjadi bagian dari semangat agar PBNU mampu berdiri mandiri dan mengandalkan kekuatan sendiri.
βBerdikari di atas kaki sendiri. Dengan pelantikan yang sederhana ini, tetapi tetap khidmat, menjadi titik awal langkah kita. Kita ingin bangga dan senang dengan NU, serta semua cita-cita dan tujuan organisasi bisa terlaksana dengan baik,β ujar KH Miftachul Akhyar dalam sambutannya.
Ia berharap, kepengurusan PBNU masa khidmah 2026β2031 dapat memulai pengabdian dengan semangat kebersamaan, kemandirian, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah organisasi.
KH Miftachul Akhyar juga menyampaikan harapan agar seluruh pengurus senantiasa diberikan kesehatan dan kesuksesan dalam menjalankan tugas, sehingga berbagai program dan cita-cita Nahdlatul Ulama dapat diwujudkan demi kemaslahatan umat.
Pengukuhan dengan konsep sederhana tersebut menjadi penanda awal perjalanan kepengurusan PBNU periode 2026β2031, dengan penekanan pada kemandirian organisasi dan pengabdian kepada umat, bangsa, serta negara. [ham]