telusur.co.id -Hampir tujuh tahun lamanya, mesin hemodialisis telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Eko Indarwati (59). Wanita asal Surabaya ini harus berdamai dengan kondisi gagal ginjal kronis yang dipicu oleh penyakit hipertensi menahun.
Namun, di tengah keterbatasan fisiknya, Eko mengaku tetap memiliki semangat hidup yang menyala berkat dukungan penuh dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kisah perjuangannya bermula saat ia merasa tubuhnya kian melemah dan energi seolah terkuras habis. Meski rutin mengonsumsi obat, tekanan darahnya tetap menunjukkan angka yang tinggi secara konsisten. Kondisi tersebut mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mencari tahu penyebab utama gangguan kesehatannya.
“Awalnya, saya beberapa kali memeriksakan kesehatan di puskesmas dan tekanan darah saya selalu tinggi, sehingga dokter merujuk saya ke RSUD dr. Soetomo. Setelah menjalani pemeriksaan darah lengkap dan CT scan, hasilnya menunjukkan adanya kerusakan ginjal. Selanjutnya, saya langsung diminta untuk menjalani cuci darah,” tutur Eko, Kamis (4/2/2026).
Diagnosis tersebut sempat membuat Eko terpuruk. Rasa takut dan stres menghantuinya, mengingat gagal ginjal merupakan penyakit serius yang membutuhkan biaya perawatan jangka panjang yang sangat besar. Namun, kekhawatiran soal finansial itu perlahan sirna saat ia mengetahui bahwa seluruh prosedur medis yang ia jalani masuk dalam cakupan Program JKN.
Eko merinci betapa berat beban biaya yang seharusnya ia tanggung jika tanpa asuransi sosial ini.
“Saya harus cuci darah secara rutin dua kali seminggu, yang berarti delapan kali dalam sebulan. Bayangkan jika saya tidak terdaftar sebagai peserta JKN, setiap bulan saya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp15 juta, sementara saya sudah tidak bekerja dan suami saya seorang pensiunan,” ungkapnya dengan nada penuh syukur.
Bagi Eko, JKN bukan sekadar program pemerintah, melainkan sistem penyokong hidup yang sangat lengkap. Layanan yang ia terima mencakup seluruh rangkaian medis, mulai dari skrining awal, konsultasi dokter spesialis, pengambilan obat rutin bulanan, hingga tindakan cuci darah yang terjadwal. Keberadaan jaminan ini membuatnya lebih fokus pada pemulihan kondisi fisik tanpa harus terbebani pikiran soal tagihan rumah sakit.
Ia pun menyayangkan jika masih ada masyarakat yang enggan mendaftarkan diri dalam Program JKN. Menurutnya, kesehatan adalah aset yang sulit diprediksi kapan akan menurun.
“Makanya saya heran kalau sampai saat ini masih ada orang yang belum terdaftar JKN, padahal tidak ada yang tahu kapan sakit datang dan tidak ada yang dapat memprediksi besarnya biaya pengobatan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya masyarakat menyadari pentingnya memiliki jaminan kesehatan,” pesan Eko.
Melalui pengalaman panjangnya ini, Eko kini lebih disiplin dalam menjaga pola makan dan menjaga kebugaran tubuh agar tetap produktif meski menyandang status pasien kronis. Ia berharap program yang ia sebut sebagai "program mulia" ini terus berkelanjutan untuk membantu masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang membutuhkan perawatan medis seumur hidup.



