telusur.co.id - Di tengah tekanan global yang memengaruhi harga bahan baku, pemerintah memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih bertahan dengan cukup solid. Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa sektor ini tetap beroperasi stabil berkat koordinasi yang diperkuat di seluruh rantai pasok.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut fluktuasi harga bahan baku global terutama yang berbasis energi menjadi tantangan utama. Salah satu contohnya adalah lonjakan harga paraxylene (PX) domestik yang naik hingga 40 persen mengikuti pasar internasional.
Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya produksi, mulai dari industri hulu hingga hilir. Harga kain, produk setengah jadi, hingga komponen pendukung seperti kemasan plastik ikut terdorong naik. Bahkan, beberapa pelaku usaha harus menyesuaikan aktivitas ekspor, termasuk menghadapi retur barang akibat perubahan pasar global.
Meski demikian, industri TPT nasional dinilai cukup tangguh. Pelaku usaha melakukan berbagai strategi adaptasi mulai dari pengelolaan stok, penyesuaian pengadaan bahan baku, hingga memperkuat hubungan dengan pemasok. Permintaan domestik pun masih terjaga, sementara peluang ekspor tetap terbuka.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Rizky Aditya Wijaya, menyoroti pentingnya diversifikasi bahan baku. Ia menilai serat rayon sebagai alternatif lokal menjadi penopang penting di tengah tekanan pada bahan berbasis petrokimia seperti polyester.
“Pemanfaatan rayon dalam negeri memberi keunggulan kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri,” jelasnya seperti dilansir situs Kemenperin (Selasa (21/4/2026).
Namun, tidak semua subsektor berada dalam posisi aman. Industri tertentu seperti produk hygiene termasuk popok masih sangat bergantung pada bahan baku spesifik tanpa substitusi, sehingga rentan terhadap gangguan pasokan.
Untuk mengantisipasi risiko ke depan, pemerintah kini tengah menyiapkan berbagai langkah strategis. Mulai dari pemetaan bahan baku kritikal, pengembangan sistem monitoring berbasis data real-time, hingga kajian insentif fiskal dan kebijakan perdagangan.
Dengan fondasi industri yang kuat serta kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, optimisme tetap terjaga. Di tengah ketidakpastian global, industri tekstil Indonesia dinilai tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpotensi semakin tangguh dan kompetitif.



