Harga Telur dan Ayam Mulai Bertumbuh Seiring MBG Jalan - Telusur

Harga Telur dan Ayam Mulai Bertumbuh Seiring MBG Jalan


telusur.co.id - Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengungkapkan, peternak telur dan ayam hidup atau broiler kini mulai mengalami eskalasi harga mendekati kewajaran harga sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen, seiring kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

"Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik," kata Ketut dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026). 

Dalam pantauan harga Bapanas, rerata harga ayam broiler di tingkat peternak mulai bertumbuh 4,11 persen dalam seminggu belakangan. Per 14 Juli, rerata harga ayam broiler berada di Rp 21.736 per kilogram (kg) berat hidup. Sementara seminggu sebelumnya berada di Rp 20.878 per kg berat hidup.

Namun, di Sumatra Selatan dilaporkan masih ada harga ayam broiler yang berada di Rp 18.125 per kg berat hidup. Di Riau, rerata harga ayam broiler tingkat peternak telah berada di Rp 25.600 per kg berat hidup. Angka ini telah melampaui HAP tingkat produsen yang ditetapkan di Rp 25.000 per kg berat hidup.

Untuk telur ayam ras, per 14 Juli rerata harga secara nasional di Rp 22.644 per kg. Level harga tersebut telah mulai meningkat 0,66 persen dibandingkan seminggu sebelumnya yang masih di Rp 22.495 per kg. 

Adapun rerata harga telur paling rendah ada di Banten dengan Rp 20.300 per kg dan rerata harga paling tinggi berada di Sulawesi Utara dengan Rp 28.200 per kg. Sementara HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan di Rp 26.500 per kg.

"Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp 20.000 sampai Rp 21.000, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus nih. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," tuturnya. 

Ketut mengakui memang sempat terjadi penurunan permintaan telur dan daging ayam dari masyarakat, sehingga terjadi depresiasi harga di tingkat peternak. Namun ke depannya, pemerintah optimis akan ada koreksi positif yang dapat menyokong keberlangsungan peternak unggas dalam negeri.

"Sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita," tukasnya. 

Sebelumnya, Bapanas turut mendukung percepatan penyerapan telur untuk MBG di Jawa Timur. Melalui penerapan menu telur sebanyak tiga kali dalam seminggu, diperkirakan mampu menyerap sekitar 8 sampai 10 persen produksi telur di Jawa Timur.

BGN melaporkan untuk estimasi kebutuhan telur untuk 22 kabupaten/kota di Jawa Timur yang terdiri dari 2.501 penerima manfaat dibutuhkan sekitar 170 kg per unit atau setara dengan total kurang lebih 16 ton telur untuk kebutuhan selama 2 minggu. Khusus Kabupaten Blitar, implementasi menu telur 3 kali seminggu membutuhkan pasokan hingga 49 ton telur per minggu.[Nug] 

 

 


Tinggalkan Komentar