telusur.co.id - Pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri. Di tangan Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa, seni tradisi tersebut juga menjadi sarana untuk membentuk karakter anak, memperkuat interaksi sosial, sekaligus menjaga warisan budaya Indonesia.
Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Semarak Budaya Pasanggiri Pencak Silat Tingkat Sekolah Dasar (SD) yang digelar Ledia Hanifa bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan di Kota Bandung, Minggu (9/8/2026).
Ajang lintas kecamatan tersebut diikuti peserta dari tujuh sekolah dan paguron. Kegiatan dirancang sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengenal, mempraktikkan, sekaligus mengapresiasi pencak silat sebagai bagian dari warisan budaya takbenda Indonesia.
Namun, ada misi lain yang ingin dicapai. Kegiatan ini juga menjadi upaya mengalihkan ketergantungan anak terhadap gawai serta membangun karakter dan kedisiplinan untuk membantu mencegah aksi perundungan di lingkungan sekolah.
Ledia menegaskan, pasanggiri yang digelar tersebut menitikberatkan pencak silat dari sisi budaya dan seni tradisi, bukan semata-mata sebagai cabang olahraga prestasi.
Menurutnya, kegiatan berbasis komunitas seperti ini penting agar masyarakat, khususnya anak-anak, memiliki ruang yang lebih luas untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya.
“Ini adalah upaya kita untuk mengalihkan anak-anak agar tidak hanya terfokus pada gawai. Jika hanya berfokus pada gawai, konsentrasi mereka cenderung individualis dan asosial,” ujar Ledia.
Ia menilai pencak silat menawarkan pengalaman yang jauh lebih lengkap. Anak-anak tidak hanya melakukan aktivitas fisik, tetapi juga belajar mengolah pikiran dan berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
“Melalui pencak silat, ada aktivitas fisik, olah akal, dan interaksi sosial yang nyata sehingga tumbuh kembang serta keterampilan hidup mereka jadi lebih seimbang,” lanjutnya.
Menurut Ledia, proses latihan pencak silat juga dapat menjadi media untuk mengajarkan anak mengenai empati dan hubungan antarmanusia.
Dalam latihan maupun kompetisi, anak-anak dibiasakan untuk menghormati lawan, mengikuti aturan, mengendalikan diri, serta menghargai orang lain.
Nilai tersebut dinilai penting di tengah persoalan perundungan yang masih menjadi perhatian di lingkungan pendidikan.
Ledia menegaskan bahwa kemampuan bela diri yang dimiliki anak bukan untuk digunakan melakukan kekerasan atau menindas teman.
Sebaliknya, keterampilan tersebut diarahkan untuk membangun keberanian, kepercayaan diri, serta keberanian membela kebenaran.
“Pencak silat mengajarkan keindahan seni, olahraga, dan kedisiplinan. Kita ingin membangun karakter anak-anak Indonesia agar lebih kuat dan kokoh, serta memiliki nilai sportivitas tinggi sehingga bisa meminimalisir kasus bullying di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Kegiatan pasanggiri tingkat SD ini bukan merupakan program pertama yang digelar. Sebelumnya, kegiatan serupa telah diselenggarakan untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Ke depan, Ledia berharap kegiatan pelestarian budaya tersebut dapat dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas.
Kompetisi dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak sekolah maupun paguron sehingga semakin banyak anak yang mendapatkan kesempatan mengenal pencak silat sekaligus nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Bagi Ledia, menjaga pencak silat bukan hanya tentang mempertahankan sebuah seni bela diri, tetapi juga memastikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Ini adalah upaya kita bersama untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan warisan budaya takbenda Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga warisan budaya ini, siapa lagi?” pungkas Ledia.



