telusur.co.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin siang, 25 Mei 2026. Setelah sempat menguat pada awal sesi perdagangan, mata uang Garuda berbalik melemah di tengah dinamika pasar global dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah turun 15 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.732 per dolar AS. Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah sempat menguat 17 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp17.700 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS justru mengalami pelemahan sebesar 0,19 persen ke level 99,049. Penurunan greenback dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Sentimen tersebut turut menekan harga minyak mentah global hingga menyentuh kisaran US$100 per barel. Kondisi ini memunculkan optimisme sementara di pasar Asia sekaligus mendorong penguatan sejumlah mata uang utama dunia terhadap dolar AS.
Dolar AS tercatat melemah 0,2 persen terhadap yen Jepang ke level 158,87. Sementara itu, euro naik 0,3 persen menjadi US$1,1642 per dolar AS dan poundsterling Inggris menguat 0,4 persen ke posisi US$1,3485 per dolar AS.
Penguatan juga terjadi pada mata uang berbasis komoditas. Dolar Australia naik 0,4 persen menjadi US$0,7160 per dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru melonjak 0,5 persen ke level US$0,5877 per dolar AS.
Seorang analis dari Westpac menyebut bahwa sentimen pasar global mulai menunjukkan perbaikan meskipun investor masih bersikap hati-hati.
“Ada tanda-tanda awal bahwa sentimen risiko tetap didukung, perdagangan awal di Sydney menunjukkan aksi jual yang luas pada USD, dengan mata uang berisiko seperti AUD diuntungkan,” tulis analis tersebut dalam catatan risetnya.
Selain faktor ekonomi, perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian utama pasar. Harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai kedua negara masih dibayangi ketidakpastian meski terdapat sinyal positif selama akhir pekan.
Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman terkait kesepakatan damai dengan Iran telah dinegosiasikan. Sementara itu, mediator dari Pakistan juga melaporkan adanya perkembangan positif dalam pembicaraan kedua negara.
Namun, pelaku pasar tetap skeptis terhadap ketahanan kesepakatan tersebut dalam jangka panjang. Kepala riset Pepperstone Group Ltd di Melbourne, Chris Weston, menilai pasar masih menunggu terobosan nyata.
“Pasar telah terbiasa untuk sangat sabar menunggu terobosan nyata, tetapi skenario dasar kesepakatan tetap kuat, dengan berita akhir pekan memberikan keyakinan lebih lanjut, meskipun waktunya masih belum jelas,” ujar Weston.
Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal, mulai dari arah kebijakan moneter AS, harga minyak dunia, hingga perkembangan geopolitik global yang terus berubah dinamis.



