telusur.co.id - Pasukan Rusia dilaporkan melancarkan “serangan besar-besaran” ke sejumlah target militer di Ukraina dalam operasi malam yang melibatkan berbagai jenis senjata, termasuk rudal hipersonik dan drone serang.
Menurut laporan militer, serangan tersebut menggunakan kombinasi sistem jarak menengah Oreshnik, rudal balistik Iskander, serta rudal jelajah hipersonik Kinzhal dan Zircon, bersama dengan rudal jelajah dari berbagai platform dan drone.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas komando dan kendali militer Ukraina, pangkalan udara, serta industri pertahanan. Moskow menegaskan bahwa tidak ada serangan yang ditujukan ke infrastruktur sipil.
“Seluruh target yang ditetapkan telah dihantam, tujuan operasi telah tercapai,” demikian pernyataan militer Rusia dikutip dari RusiaToday, Minggu, (24/5/2026).
Serangan ini terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin disebut memerintahkan Kementerian Pertahanan untuk menyusun respons atas serangan drone Ukraina terhadap fasilitas di wilayah Luhansk yang dilaporkan menewaskan 21 orang dan melukai puluhan lainnya.
Di sisi lain, pihak Ukraina dan sejumlah saluran Telegram melaporkan adanya cahaya terang di langit yang diduga terkait peluncuran rudal, termasuk klaim penggunaan Oreshnik terhadap target di sekitar wilayah dekat Kyiv.
Rusia sebelumnya juga mengklaim telah menggunakan sistem Oreshnik dalam beberapa operasi sejak akhir 2024, termasuk serangan terhadap fasilitas industri militer di Ukraina.
Sementara itu, otoritas di wilayah pro-Rusia di Luhansk menetapkan hari berkabung atas insiden di sebuah fasilitas pendidikan yang terkena serangan drone, yang oleh pejabat setempat disebut sebagai “tindakan teroris”.



