telusur.co.id - Gelombang protes besar-besaran di Iran yang pecah sejak akhir Desember 2025 kini berimbas ke panggung geopolitik internasional. The New York Times melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah menerima paparan mengenai berbagai opsi serangan terhadap Iran. Menurut sejumlah pejabat senior AS, Trump mempertimbangkan langkah itu secara serius, meski belum mengambil keputusan final.
Opsi yang dikaji disebut mencakup serangan terhadap target non-militer di Teheran, serta aparat keamanan yang menangani demonstrasi. Namun, para pejabat AS menyadari risiko besar: serangan semacam itu bisa memicu balasan terhadap personel militer dan diplomat AS di Timur Tengah.
Seorang petinggi militer AS menegaskan, jika serangan benar-benar disetujui, komandan di kawasan memerlukan waktu untuk menyiapkan pertahanan menghadapi kemungkinan balasan Iran.
Gedung Putih sendiri merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya yang memperingatkan otoritas Iran akan adanya konsekuensi jika demonstran tewas. Pada Sabtu, Trump menyatakan kesiapan AS untuk “membantu” Iran.
Di saat yang sama, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, menyerukan pemogokan umum lewat video di platform X. Ia menyebut aksi itu sebagai persiapan untuk merebut jalan dan fasilitas strategis, bahkan meminta Trump melakukan intervensi.
Sejak 8 Januari, protes di Iran semakin meluas. Internet sempat terputus, sementara bentrokan dengan aparat keamanan terjadi di sejumlah kota. Krisis ekonomi menjadi pemicu utama, dengan nilai rial merosot tajam dan harga kebutuhan melonjak.
Situasi makin genting setelah Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, mengundurkan diri. Menurut laporan HRANA, jumlah korban tewas akibat protes telah mencapai 65 orang. [ham]




