Tuduh KONI Pusat Diskriminatif, PB PORDI Siap Tempuh Jalur Hukum - Telusur

Tuduh KONI Pusat Diskriminatif, PB PORDI Siap Tempuh Jalur Hukum


telusur.co.id - Pengurus Besar Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PB PORDI) melontarkan protes keras terhadap Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) usai pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI.

Ketua Umum PB PORDI, Andi Jamaro Dulung, menilai pihaknya mendapat perlakuan diskriminatif dalam proses pengajuan keanggotaan sebagai cabang olahraga prestasi di bawah KONI. Bahkan, PORDI membuka peluang membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.

“Kami pastinya akan rapat dulu dengan pimpinan. Yang jelas, langkah yang akan kami lakukan adalah langkah hukum untuk menilai apakah tindakan KONI Pusat ini benar atau tidak. Kami akan serahkan ke pengadilan,” ujar Andi Jamaro Dulung pada Presconference di Sekret PB PORDI, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Polemik bermula saat PB PORDI merasa tidak diberi ruang dalam forum Rakernas KONI, meski mengklaim telah memenuhi hampir seluruh persyaratan administrasi sesuai AD/ART KONI.

Menurut Andi Jamaro Dulung, satu-satunya syarat yang belum dapat dipenuhi adalah keberadaan federasi internasional domino yang hingga kini dinilai belum jelas keberadaannya. Namun, PORDI mengaku telah berupaya membangun legitimasi internasional dengan menggelar turnamen domino internasional yang diikuti delapan negara.

“Seluruh persyaratan yang dicantumkan di AD/ART KONI telah kami penuhi kecuali satu yakni International Federation Domino Association yang belum kami penuhi karena wujud federasi ini kami tidak ketahui,” katanya.

“Olehnya kami melaksanakan kejuaraan internasional yang dihadiri delapan negara dengan harapan menjadi embrio terciptanya organisasi internasional,” lanjutnya.

PB PORDI juga menyoroti keputusan KONI yang dinilai lebih memberi ruang kepada organisasi lain bernama ORADO. Menurut mereka, organisasi tersebut justru belum memenuhi syarat minimal penyelenggaraan event nasional sebagaimana ketentuan yang berlaku.

“Tapi KONI tampaknya mengabaikan. Bahkan ORADO yang kegiatan nasionalnya baru satu kali, padahal syaratnya minimal dua kali dan diikuti 10 provinsi, malah itu yang diterima oleh KONI,” ujar Andi Jamaro Dulung.

Ia menilai keputusan tersebut memperlihatkan adanya perlakuan tidak adil terhadap PORDI.

“Saya kira dengan demikian kelihatan betul bahwa ada diskriminasi yang dilakukan oleh KONI,” tegasnya.

Menurutnya, tindakan tersebut dapat berdampak buruk terhadap iklim olahraga nasional jika tidak disikapi secara objektif dan transparan.

“Ini tidak boleh dibiarkan karena merusak iklim olahraga di Indonesia,” tambahnya.

PB PORDI mengaku sebenarnya telah mengikuti proses pengajuan keanggotaan sejak beberapa tahun lalu. Mereka membantah pernyataan KONI yang menyebut dokumen pengajuan baru masuk pada Mei 2026.

Dalam keterangannya, PORDI menyebut proses komunikasi dengan KONI sudah berlangsung sejak 2019 dan dilanjutkan melalui audiensi resmi pada 9 Maret 2022 bersama Bidang Organisasi dan Bidang Hukum KONI Pusat.

Pada pertemuan tersebut, PORDI mengaku menerima arahan terkait kelengkapan dokumen legal dan syarat administratif lain yang harus dipenuhi. Sejak saat itu, organisasi tersebut terus melengkapi seluruh ketentuan yang diminta.

“Menyikapi perkembangan terakhir terkait Rakernas KONI, kami mencermati bahwa forum tersebut tidak mencerminkan perhelatan organisasi olahraga profesional yang bisa menjadi sandaran seluruh induk cabang olahraga prestasi,” tulis pungkasnya. 

PORDI juga menilai forum Rakernas dan Musornaslub KONI sarat kepentingan dan jauh dari semangat musyawarah demi kemajuan olahraga nasional.[Nug] 


Tinggalkan Komentar