Geopolitik Memanas: Amerika, PBB, dan Bayangan Multipolarisme - Telusur

Geopolitik Memanas: Amerika, PBB, dan Bayangan Multipolarisme

Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik

telusur.co.id - Dalam sebuah forum kajian geopolitik bertema “Pergeseran Peradaban dan Politik Global” pada Jumat malam, Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik, menyampaikan pandangan yang cukup tajam tentang arah politik dunia. Menurutnya, dinamika global kini semakin panas, penuh dengan peristiwa tak terduga yang sulit diprediksi.

Mahfuz menggambarkan Amerika Serikat sebagai aktor utama yang sedang memainkan skenario besar. Ia menyinggung operasi militer AS di Venezuela, yang disebut-sebut berhasil menculik Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya. Di Iran, gelombang demonstrasi yang semakin meluas dianggap sebagai bagian dari upaya pergantian rezim yang tinggal menunggu waktu.

Tak berhenti di sana, Mahfuz menilai AS juga berambisi menguasai Greenland, wilayah strategis di bawah Denmark, untuk mengontrol Arktik dan menghadang pengaruh Rusia serta China. Greenland, katanya, akan dijadikan basis militer baru AS di Eropa, sebuah langkah yang diyakini akan melemahkan kekuatan Rusia. Dalam pandangan Mahfuz, Amerika ingin menjadikan Ukraina seperti Afghanistan di masa Uni Soviet—sebuah medan perang yang berujung pada keruntuhan negara.

Di balik semua itu, Mahfuz menyoroti kepemimpinan Donald Trump. Ia menggambarkan Trump sebagai sosok yang ingin mengembalikan kejayaan Amerika sebagai satu-satunya superpower dunia, tanpa tunduk pada aturan lembaga internasional. Keputusan Trump keluar dari puluhan lembaga di bawah PBB disebut sebagai pesan keras bahwa AS tidak lagi mengakui otoritas PBB. Amerika, menurut Mahfuz, sedang membangun tatanan global baru dengan logika sederhana: “kawan atau lawan.”

Mahfuz menilai langkah ini mengingatkan pada pola kebijakan luar negeri AS pasca Perang Dunia I dan II, ketika Washington membentuk aturan global sesuai kepentingannya sendiri. Karena itu, ia menekankan perlunya diskusi ulang mengenai kebijakan luar negeri AS, terutama bagi Indonesia dan dunia Islam.

Di akhir paparannya, Mahfuz menyerukan agar negara-negara Islam segera menyadari kelemahan politik mereka yang kian hari semakin terfragmentasi. Ia mengajak umat Islam untuk mengonsolidasi kekuatan, membangun kesadaran kolektif, dan mendorong kembali tren multipolarisme sebagai penyeimbang terhadap dominasi satu negara. [ham]


Tinggalkan Komentar