Guru Besar UNAIR Soroti Makna Kesetaraan di Hari Kartini: Keberdayaan dan Beban Ganda Perempuan - Telusur

Guru Besar UNAIR Soroti Makna Kesetaraan di Hari Kartini: Keberdayaan dan Beban Ganda Perempuan

Pakar sosiologi gender Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., M.A. Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Peringatan Hari Kartini setiap 21 April dinilai bukan sekadar seremoni mengenakan kebaya, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali makna kesetaraan dan kondisi nyata perempuan di tengah perubahan sosial dan ekonomi global.

Pakar sosiologi gender Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., M.A., menegaskan bahwa pemikiran R.A. Kartini sejak awal telah menekankan tiga hal penting, yakni pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan kesehatan reproduksi perempuan.

“Ibu Kartini meninggal pada masa nifas yang masuk dalam Angka Kematian Ibu. Sejak lama beliau berjuang untuk kesehatan perempuan, memerangi kebodohan, dan kemiskinan,” ujar Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR tersebut.

Keberdayaan sebagai ukuran kesetaraan

Menurut Prof. Emy, peningkatan pendidikan formal perempuan tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesetaraan. Yang lebih penting, kata dia, adalah keberdayaan dan otonomi perempuan dalam menentukan arah hidupnya.

“Yang sebetulnya harus dicapai itu keberdayaan perempuan. Perempuan harus bisa punya agenda hidup sendiri tanpa paksaan dan penuh dengan kesadaran,” tegasnya.

Ia menambahkan, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian gelar akademik, tetapi juga pembentukan kesadaran kritis agar perempuan tidak berada dalam tekanan sosial.

“Pendidikan formal itu penting, namun yang esensial adalah perempuan menjadi berdaya. Ia memiliki otonomi atas hidupnya, tidak tertekan, atau dipaksa. Ia berhak menentukan sendiri agendanya apakah lanjut sekolah, bekerja, menikah, atau memiliki anak,” paparnya.

Beban ganda perempuan di tengah krisis

Prof. Emy juga menyoroti realitas multi burden atau beban ganda yang masih banyak dialami perempuan, terutama dalam situasi krisis ekonomi. Perempuan, menurutnya, kerap harus menjalankan peran domestik sekaligus menjadi pencari nafkah tambahan.

“Siapa pun itu perempuan pasti punya multi burden (beban ganda) karena masyarakat menempatkan peran domestik padanya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai perempuan memiliki ketangguhan yang tinggi dalam menghadapi situasi tersebut.

Solidaritas sebagai kekuatan sosial

Dalam pandangannya, kekuatan perempuan juga terletak pada jaringan sosial dan solidaritas antarperempuan yang kuat, terutama dalam situasi sulit.

“Perempuan itu sangat tinggi solidaritas dan jaringan sosialnya, terutama dengan sesama perempuan,” ujar Prof. Emy.

Ia mencontohkan bagaimana budaya saling membantu di lingkungan sekitar, termasuk dalam pengasuhan anak dan dukungan ekonomi informal, menjadi bentuk ketahanan sosial yang nyata.

Dorongan kolaborasi dan kemandirian

Terkait peran pemerintah, Prof. Emy menyebut bahwa meskipun program pengarusutamaan gender telah berjalan, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, pemberdayaan masyarakat menjadi hal yang tidak kalah penting.

“Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Jangan ada kompetisi tidak sehat, mari bergandengan tangan bersama,” katanya.

Ia pun mengajak generasi muda untuk meneladani semangat R.A. Kartini dalam membangun jejaring, solidaritas, dan kemandirian dalam menghadapi tantangan zaman.


Tinggalkan Komentar