telusur.co.id - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendesak pemerintah memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Desakan ini menyusul data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mencatat sebanyak 174.694 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla selama Agustus hingga September 2026.
Yahya menilai, tingginya jumlah kasus ISPA akibat paparan asap karhutla membutuhkan penanganan serius, mulai dari penguatan fasilitas kesehatan, perluasan akses pertolongan dini, hingga peningkatan perlindungan bagi masyarakat terdampak.
Menurut legislator Fraksi Partai Golkar tersebut, pemerintah juga perlu memastikan masyarakat memperoleh informasi yang memadai mengenai langkah-langkah melindungi kesehatan dari paparan asap serta akses terhadap layanan medis sejak gejala awal muncul.
"Dalam kondisi seperti ini, semua warga menjadi rentan karena dampak karhutla dirasakan semua orang, baik secara langsung terhadap kesehatan maupun secara tidak langsung. Karena itu, penanganan awal bagi korban harus menjadi perhatian," ujar Yahya Zaini.
Ia menekankan, dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh warga yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Paparan asap dalam jangka waktu tertentu juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat di wilayah terdampak kabut asap.
Karena itu, Yahya meminta pemerintah mengidentifikasi kelompok masyarakat yang terus-menerus terpapar asap dan memastikan mereka mendapatkan pemantauan kesehatan. Warga yang mengalami gangguan kesehatan serius juga perlu memperoleh perawatan berkelanjutan agar kondisinya tidak semakin memburuk.
Selain menyoroti dampak kesehatan, Yahya menyampaikan keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa dari kalangan relawan dan masyarakat umum dalam peristiwa karhutla. Ia juga mengingatkan bahwa dampak kabut asap telah meluas hingga ke negara tetangga sehingga upaya penanggulangan kebakaran perlu segera diperkuat.
"Hal ini menjadi keprihatinan karena karhutla telah menjadi ancaman bagi banyak orang, bahkan warga negara tetangga turut merasakan dampaknya. Kami berharap pemerintah dapat melakukan berbagai intervensi untuk segera mengatasi karhutla," tutur Yahya.
Yahya turut meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada pekerja yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan selama karhutla berlangsung. Menurutnya, paparan asap pekat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan sekaligus menghambat masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Warga terdampak karhutla berhak mendapatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan, termasuk jaminan agar tetap dapat memiliki pekerjaan ketika asap pekat akibat karhutla membuat mereka tidak bisa keluar rumah," kata Yahya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman kebakaran, tetapi juga memperkuat langkah perlindungan kesehatan dan sosial bagi masyarakat terdampak. Dengan demikian, penanganan karhutla dapat mencakup pengendalian sumber bencana sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat.